A.    PERSYARATAN PENGGANTIAN NAZHIR BADAN HUKUM            

1.      Surat permohonan kepada KUA setempat untuk meneruskan penggantian nazhir kepada BWI       

2.      Keputusan rapat tentang penggantian nazhir dengan menyebutkan struktur nazhir paling kurang 3 (tiga) orang yaitu ketua, sekretaris dan bendahara serta melampirkan daftar hadir peserta rapat yang dihadiri oleh seluruh nazhir yang masih ada dan wakif atau ahli warisnya apabila wakif sudah meninggal (Jika wakif atau ahli warisnya tidak hadir dalam rapat, maka keputusan rapat harus disetujui oleh wakif atau ahli warisnya apabila wakif sudah meinggal)    

3.      Bukti alasan penggantian nazhir (di-check list sesuai dengan alasan penggantian nazhir) 

a.       Meninggal dunia, dengan melampirkan surat keterangan meninggal dunia/kematian dari instansi yang berwenang           

b.      Berhalangan tetap, dengan melampirkan surat keterangan dari pihak yang bersangkutan bermaterai cukup 

c.       Mengundurkan diri, dengan surat pengunduran diri dari pihak bersangkutan bermaterai cukup 

d.      Organisasi  atau   badan  hukum  bubar  atau  dibubarkan   sesuai  dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,  dengan  bukti surat  keterangan         dari pengurus dan/atau instansi yang berwenang           

e.       Tidak  melaksanakan   tugasnya  dan/atau  melanggar  ketentuan  larangan dalam  pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf sesuai dengan ketentuan  peraturan  perundang-undangan,  dengan bukti surat pernyataan keberatan dari wakif/ahli warisnya bermaterai cukup 

f.       Nazhir dijatuhi hukuman  pidana  oleh  pengadilan  yang  telah   mempunyai kekuatan hukum tetap, dengan bukt salinan putusan pengadilan 

4.      Foto copy KTP calon nazhir 

5.      Daftar riwayat hidup calon nazhir             

6.      Foto copy Akta Ikrar Wakaf (AIW) atau Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW) atau Foto copy sertifikat wakaf (jika sudah bersertifikat). 

7.      Foto copy Surat Pengesahan Nazhir 

8.      Program kerja dalam pengelolaan dan pengembangan wakaf       

9.      Surat pernyataan bersedia untuk diaudit bermaterai cukup 

10.  Foto  copy  salinan  akta  notaris  tentang  pendirian badan hukum dan anggaran dasar yang telah disahkan oleh instansi berwenang 

11.  Daftar susunan pengurus 

12.  Foto copy Anggaran Rumah Tangga         

13.  Surat Keterangan daftar kekayaan  yang  berasal  dari  harta wakaf yang terpisah dari kekayaan lain yang merupakan kekayaan Organisasi Badan Hukum       

Dokumen daftar kekayaan  yang  berasal  dari  harta wakaf yang terpisah dengan yang berasal dari Badan Hukum        

14.  Seluruh Persyaratan dibuat rangkap 3 (tiga) asli semua     

 

                                                                                           

B.     ALUR PELAYANAN PENGGANTIAN NAZHIR BADAN HUKUM 

1.      Nazhir menghadap KUA (PPAIW)  dengan  membawa  persyaratan sebagaimana diatas  

2.      Petugas memverifikasi data 

Bila  data lengkap proses  berlanjut dan apabila data belum lengkap  maka harus  melengkapi   proses   menunggu  sampai persyaratan lengkap 

3.      Entri  data  dan cetak : Surat Pengantar Permohonan Penggantian Nazhir dari KUA yang ditujukan kepada BWI 

4.      Penandatangan, stempel dan penyerahan/pengiriman ke bwi 

5.      Pengarsipan                                                                                                            

 

C.     DASAR HUKUM       

1.      PP 42 Tahun 2006 Ps. 11 sd 12     

2.      Peraturan BWI NO. 3 Tahun 2008 Pasal 2 s/d 4  

3.      Peraturan BWI NO. 2 Tahun 2012 Pasal 5 : (1) dan (2) 

 

PP 42 TH 2004 

Bagian Keempat 

Nazhir Badan Hukum 

Pasal 11 

(1)   Nazhir Badan Hukum  wajib didaftarkan   pada   Menteri  dan  BWI  melalui  Kantor Urusan Agama setempat. 

(2)   Dalam  hal  tidak  terdapat  Kantor  Urusan  Agama setempat sebagaimana dimaksud pada  ayat (1),  pendaftaran  Nazhir dilakukan  melalui Kantor Urusan Agama terdekat, Kantor  Departemen  Agama, atau perwakilan BWI di provinsi/kabupaten/kota. 

(3)   Nazhir badan hukum yang melaksanakan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan 

a.       badan hukum Indonesia yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam; 

b.      pengurus Badan Hukum harus memenuhi persyaratan Nazhir perseorangan; 

c.       salah  seorang  pengurus  Badan Hukum   harus   berdomisili  di  kabupaten/kota  letak benda wakaf berada; 

d.      memiliki 

1.      salinan akta notaris tentang pendirian dan anggaran dasar badan hukum yang telah disahkan oleh instansi berwenang; 

2.      daftar susunan pengurus; 

3.      anggaran rumah tangga; 

4.      program kerja dalam pengembangan wakaf;  

5.      daftar  kekayaan  yang  berasal  dari  harta  wakaf yang terpisah dari kekayaan lain atau yang merupakan kekayaan Badan Hukum; dan surat pernyataan bersedia untuk diaudit. 

(4)   Persyaratan   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat   (3)   huruf   d  dilampirkan  pada permohonan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 

Pasal 12 

(1)   Nazhir  perwakilan  daerah  dari suatu  Badan Hukum yang tidak melaksanakan tugas dan atau  melanggar  ketentuan  larangan  dalam  pengelolaan  dan  pengembangan harta benda  wakaf  sesuai  dengan peruntukan yang tercantum dalam AIW, maka pengurus pusat  Badan Hukum  bersangkutan  wajib menyelesaikannya baik diminta atau tidak oleh BWI. 

(2)   Dalam hal pengurus pusat Badan Hukum tidak dapat menjalankan kewajiban sebagaimana  dimaksud  pada  ayat (1), maka Nazhir Badan Hukum dapat diberhentikan dan   diganti   hak    kenazhirannya    oleh   BWI    dengan  memperhatikan  saran  dan pertimbangan MUI setempat. 

(3)   Apabila  Nazhir  Badan Hukum  dalam  jangka waktu 1 (satu)  tahun sejak AIW dibuat tidak melaksanakan  tugasnya, maka  Kepala  KUA  baik  atas  inisiatif sendiri maupun atas usul  Wakif  atau ahli  warisnya berhak mengusulkan kepada BWI untuk pemberhentian dan penggantian Nazhir. 

Bagian Kelima 

Tugas dan Masa Bakti Nazhir 

Pasal 13 

1)      Nazhir   sebagaimana    dimaksud   dalam   Pasal   4,   Pasal  7  dan   Pasal  11   wajib mengadministrasikan, mengelola, mengembangkan, mengawasi dan melindungi harta benda wakaf. 

2)      Nazhir  wajib   membuat  laporan  secara  berkala  kepada  Menteri dan BWI mengenai kegiatan perwakafan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 

3)      Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur dengan Peraturan Menteri.                                                                                      

Pasal 14 

1)      Masa bakti Nazhir adalah 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali. 

2)      Pengangkatan  kembali  Nazhir  sebagaimana  dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh BWI,  apabila yang  bersangkutan  telah  melaksanakan  tugasnya  dengan baik dalam periode  sebelumnya   sesuai  ketentuan   prinsip  syariah  dan Peraturan  Perundang - undangan. 

                                     

PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA 

NOMOR 3 TAHUN 2008 

TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN DAN PENGGANTIAN NAZHIR HARTA 

BENDA WAKAF TIDAK BERGERAK BERUPA TANAH 

 

BAB II 

PENDAFTARAN NAZHIR HARTA BENDA WAKAF TIDAK BERGERAK 

BERUPA TANAH 

 

Pasal 2 

1)      Nazhir  harta  benda  tidak bergerak  berupa tanah wajib didaftarkan pada Menteri dan BWI melalui KUA setempat.            

2)      Dalam  hal   tidak  terdapat   KUA  setempat   sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) pendaftaran  Nazhir  dilakukan   melalui  KUA   terdekat,  Kantor  Kementerian  Agama, atau perwakilan BWI di provinsi/kabupaten/kota.          

3)      BWI menerbitkan tanda bukti pendaftaran Nazhir.    

4)      KUA menerbitkan surat pengesahan Nazhir.  

5)      Nazhir  perseorangan  yang  telah  mendapatkan  surat  pengesahan  Nazhir  dari  KUA setempat  wajib  mengurus  sertifikat  tanah  wakaf  atas  nama Nazhir perseorangan di Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat. 

6)      Dalam    hal    Nazhir    organisasi    atau    badan    hukum,     sertifikat     tanah    wakaf mengatasnamakan organisasi atau badan hukum dan nama pengurusnya.                                                                                                                                                                              

BAB III 

PENGGANTIAN NAZHIR HARTA BENDA WAKAF TIDAK BERGERAK  

BERUPA TANAH 

 

Pasal 3 

1)      Dalam  mengelola dan  mengembangkan harta benda wakaf, Nazhir diberhentikan dan diganti dengan Nazhir lain apabila Nazhir yang bersangkutan: 

a.       meninggal dunia; 

b.      berhalangan tetap;  

c.       mengundurkan diri; 

d.      tidak   melaksanakan   tugasnya  sebagai   Nazhir  dan/atau   melanggar   ketentuan larangan dalam pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf sesuai dengan ketentuan peraturan perundang.undangan; 

e.       dijatuhi  hukuman  pidana  oleh  pengadilan  yang telah mempunyai kekuatan hokum tetap; 

f.       bubar  atau  dibubarkan  sesuai  dengan ketentuan  peraturan  perundang.undangan yang berlaku untuk Nazhir organisasi atau Nazhir badan hukum; 

g.      diberhentikan oleh BWI.   

2)      Pemberhentian dan penggantian Nazhir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh BWI. 

3)      Dalam  hal  terjadi  penggantian Nazhir, BWI menerbitkan surat keputusan BWI tentang penggantian Nazhir. 

4)      Berdasarkan surat keputusan BWI tentang penggantian Nazhir, Nazhir wajib mengurus surat pengesahan Nazhir baru di KUA setempat.                                                                                                                            

BAB IV 

PERSYARATAN PENGGANTIAN NAZHIR HARTA BENDA WAKAF TIDAK 

BERGERAK BERUPA TANAH 

 

Pasal 4 

1)      Persyaratan umum penggantian Nazhir: 

a.       surat pengantar permohonan penggantian Nazhir dari KUA setempat yang ditujukan kepada BWI; 

b.      surat  permohonan  kepada  KUA  setempat  untuk meneruskan penggantian Nazhir kepada  BWI   dengan   menyebutkan  alasan  penggantian  Nazhir   sesuai  dengan Peraturan Perundang-undangan:   

1.      meninggal  dunia  dengan  melampirkan   surat  keterangan   dari   instansi  yang berwenang; 

2.      berhalangan  tetap   dengan   melampirkan   surat    keterangan   dari  pihak  yang bersangkutan bermaterai cukup; 

3.      mengundurkan  diri  dengan  melampirkan surat pengunduran diri dari pihak yang bersangkutan bermaterai cukup; 

4.      tidak  melaksanakan   tugasnya  sebagai  Nazhir  dan/atau  melanggar  ketentuan larangan  dalam   pengelolaan  dan   pengembangan  harta  benda  wakaf  sesuai dengan  ketentuan  peraturan   perundang-undangan  dengan  melampirkan  surat pernyataan keberatan dari wakif/ahli warisnya bermaterai cukup; 

5.      dijatuhi hukuman pidana oleh pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hokum tetap dengan melampirkan salinan putusan pengadilan. 

6.      bubar atau  dibubarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk  Nazhir  organisasi  atau  Nazhir  badan hukum  dengan  melampirkan  surat keterangan dari instansi yang berwenang; 

c.       hasil  keputusan  rapat   penggantian   Nazhir  dengan  menyebutkan  struktur  Nazhir paling   kurang 3  (tiga)  orang  terdiri  dari  ketua,  sekretaris   dan  bendahara  serta melampirkan daftar peserta rapat;          

d.      daftar riwayat hidup calon Nazhir;            

e.       foto kopi Kartu Tanda penduduk (KTP) calon Nazhir;     

f.       foto kopi AIW dan Surat Pengesahan Nazhir yang dilegalisir KUA setempat; 

g.      foto kopi sertifikat tanah wakaf (jika sudah bersertifikat). 

2)      Persyaratan khusus penggantian Nazhir: 

a.       Nazhir perseorangan: 

1.      memenuhi   persyaratan  Nazhir   perseorangan,  yaitu:  warga  Negara  Indonesia, beragama  Islam,  dewasa, amanah, mampu secara jasmani dan rohani, dan tidak terhalang melakukan perbuatan hukum; 

2.      salah seorang Nazhir perseorangan harus bertempat tinggal di kecamatan tempat benda wakaf berada;  

3.      memiliki program kerja dalam pengelolaan dan pengembangan wakaf.          

b.      Nazhir organisasi:   

1.      pengurus organisasi memenuhi persyaratan Nazhir perseorangan; 

2.      organisasi be rgerak  di  bidang   sosial,  pendidikan,  kemasyarakatan,  dan/atau keagamaan Islam; 

3.      salah  seorang  pengurus  organisasi  harus  berdomisili  di  kabupaten/kota  letak benda wakaf;             

4.      organisasi tersebut memiliki:    

a)      salinan akta notaris tentang pendirian organisasi dan anggaran dasar;     

b)      daftar susunan pengurus organisasi; 

c)      anggaran rumah tangga;    

d)     program kerja dalam pengembangan wakaf;         

e)      daftar kekayaan yang berasal dari harta wakaf yang terpisah dari kekayaan lain yang merupakan kekayaan organisasi;   

f)       surat pernyataan bersedia untuk diaudit bermaterai cukup. 

c.       Nazhir badan hukum: 

1.      pengurus  badan  hukum yang  bersangkutan  harus memenuhi persyaratan Nazhir perseorangan;   

2.      badan  hukum  Indonesia  yang  terbentuk  sesuai  dengan  Peraturan  Perundang-Undangan yang berlaku; 

3.      badan  hukum  tersebut  bergerak  dibidang  sosial,  pendidikan, kemasyarakatan dan/atau keagamaan Islam;         

4.      salah seorang pengurus badan hukum harus berdomisili di kabupaten/kota benda wakaf berada;             

5.      badan hukum tersebut memiliki; 

a)      salinan  akta notaris  tentang pendirian dan anggaran dasar badan hukum yang telah disahkan oleh instansi berwenang; 

b)      daftar susunan pengurus;  

c)      anggaran rumah tangga; 

d)     program kerja dalam pengembangan wakaf;         

e)      daftar  terpisah   kekayaan   yang  berasal  dari  harta  benda  wakaf  atau  yang merupakan kekayaan badan hukum; 

f)       surat pernyataan bersedia untuk diaudit bermaterai cukup.                                  

                                                                                                                                     

Peraturan BWI Nomor : 2 Tahun 2012 Tentang Perwakilan BWI  

Pasal  5 

(1)   Perwakilan  BWI  Provinsi  memiliki tugas dan wewenang sebagai berikut: 

1.      Melaksanakan kebijakan dan tugas-tugas BWI di tingkat Provinsi; 

2.      Melakukan  koordinasi  dengan  kanwil  kemenag  dan  instansi terkait dalam rangka pelaksanaan tugas BWI Provinsi; 

3.      Melakukan  pembinaan  terhadap  Nazhir   dalam  mengelola  dan  mengembangkan harta benda wakaf; 

4.      Bertindak  dan  bertanggung  jawab  untuk  dan  atas n ama Perwakilan BWI Provinsi baik ke dalam maupun ke luar; 

5.      Memberhentikan  dan/atau  mengganti  Nazhir  yang  luas  tanah  wakafnya  1000 M2 (seribu  meter  per segi)  sampai  dengan  20.000 M2 (dua puluh ribu meter persegi);     

6.      Menerbitkan  tanda  bukti  Pendaftaran  Nazhir  yang  luas  tanah  wakafnya 1000 m2            sampai dengan 20.000 M2 (dua puluh ribu meter persegi); 

7.      Melaksanakan   survey  dan   membuat  laporan   atas   usul   perubahan  peruntukan harta benda wakaf yang luasnya paling sedikit 1000 M2 (seribu meter per segi); 

8.      Melaksanakan   survey   dan   membuat   laporan   atas   usul   penukaran/perubahan status  harta   benda  wakaf   (ruislagh)  berupa   tanah   yang  luasnya  paling  sedikit 1.000 M2 (seribu meter per segi);          

 

(2)   Perwakilan BWI Kabupaten/Kota memiliki tugas dan wewenang untuk:     

1.      Melaksanakan kebijakan dan tugas-tugas BWI di tingkat kabupaten/kota; 

2.      Melakukan  koordinasi   dengan  Kankemenag  dan   instansi  terkait  dalam  rangka pelaksanaan tugas BWI kabupaten/kota;          

3.      Melakukan  pembinaan   terhadap  nazhir  dalam  mengelola  dan  mengembangkan harta benda wakaf; 

4.      Bertindak   untuk    dan    bertanggung   jawab   untuk   dan  atas   nama   Perwakilan BWI kabupaten/kota baik ke dalam maupun ke luar;    

5.      Memberhentikan   dan   mengganti  Nazhir   yang  luas  tanah  wakafnya  kurang dari 1000M2 (seribu meter per segi);      

6.      Menerbitkan  tanda  bukti  Pendaftaran Nazhir yang luas tanah wakafnya kurang dari 1000 M2 (seribu meter per segi); 

7.      Melaksanakan survey  dan membuat  laporan  atas usul perubahan peruntukan harta benda   wakaf   berupa  tanah  yang  luasnya  kurang  dari  1000  M2  (seribu   meter per segi); 

8.      Melaksanakan survey  dan  membuat laporan atas usul penukaran/perubahan status harta  benda   wakaf  (ruislagh)   berupa  tanah  yang  luasnya  kurang  dari  1000 M2 (seribu meter per segi);      

Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Perwakilan BWI Provinsi. 

Live Chat Online
Memuat...